Selasa, 04 Januari 2022

 

PENERAPAN MODEL PEMEBLAJARAN ARIAS DALAM MENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA DI KELAS

Ismail

 

1.      Permasalahan

Saya salah seorang guru di SD Negeri 2 Kembang Kerang Daya, yang mengajar di kelas 5. Sebelumnya saya mengajar di SD Negeri 4 Kembang Kerang yang berada di satu wilayah kecamatan yaitu Aikmel, dan penugasan saya di sekolah ini baru 2 tahun. Selama itu saya mengamati perkembangan pelaksanaan pemebelajaran masih jauh berbe da dibandingkan dengan sekolah lain, banyak permasalahan yang saya lihat terutama da lam menerapkan strategi dan model pembelajaran dan tekhnis guru dalam meng ajar.

Mengajar merupakan sebuah tindakan seseorang yang mencoba untuk mem-bantu orang lain (siswa) untuk mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin, se­hingga sesuai dengan potensinya untuk mencapai tujuan pembelajaran (Moore 2001, (dalam Suyono 2011). Hasil akhir dari proses mengajar adalah kemam-puan siswa yang tinggi untuk dapat belajar lebih mudah dan efektif sehingga akan meningkatkan hasil belajar yang optimal.

Guru dalam hal untuk meningkatkan hasil belajar yang optimal, dituntut agar dapat melakukan berbagai peran dalam pembelajaran dan memiliki pengetahuan yang luas (Suyono & Hariyanto, 2011). Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh guru adalah kemampuan dalam memilih, memilah, dan menerapkan model pembelajaran atau strategi dalam mengajar. Pada kenyataan banyak guru yang tidak menguasai kompetensi tersebut. Kenyataan ini, juga terjadi di Sekolah tempat saya mengajar yaitu SDN 2 Kembang Kerang Daya Lombok Timur. Pantauan saya selama mengajar di tempat ini menunjukkan bahwa rendahnya hasil dan kualitas belajar IPA di kelas. Pelajaran IPA sulit dipahami oleh siswa disebabkan karena model pembelajaran yang digunakan selama tidak sesuai dengan karakter pembelajaran IPA serta masih berpusat pada guru dan bersifat monoton, sementara siswa tidak banyak  berperan aktif yang akhirnya berpengaruh terhadap kefektipan pembelajaran dalam kelas yang akan mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa.

Pelaksanaan pembelajaran yang terjadi selama ini, penggunaan strategi dan model pembelajaran tidak didasarkan pada prinsip dan langkah-langkah strategi dan model pemebelajaran yang diterapkan dalam pelajaran IPA. Dalam menjelaskan materi IPA, secara umum dengan metode ceramah, dan kadang menggunakan strategi lain tan-pa melibatkan siswa untuk ikut berperan aktif sesuai dengan materi yang dipelajari. Pada umumnya guru mengira bahwa semua strategi dan model pembelajaran itu sama. Masih banyak guru tidak mengetahui bahwa penerapan strategi mengajar dapat membantu pembelajar dalam meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru yang ber-upa ide-ide atau istilah-istilah dan membagi ide dan istilah tersebut menjadi subyek yang lebih kecil. Guru juga tidak mengetahui dan tidak memahami bahwa penggunaan model dan strategi mengajar yang tepat, dapat membantu siswa melakukan aktivitas ber pikir dan mempunyai kemampuan kognitif tingkat tinggi, sehingga mereka dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang ada dan dimiliki sejak awal sebelum mereka belajar.

2.      Dampak Terhadap Prestasi Akademik Siswa

Penggunaan strategi dan model pembelajaran yang tidak tepat serta penggunaan-nya yang monoton mengakibatkan sulitnya siswa memahami materi IPA serta rendah-nya kemampuan berpikir kritis, kemampuan kognitif dan afektif siswa SD Negeri 2 Kembang Kerang Daya Lombok Timur. Sulitnya memahami materi pelajaran IPA serta rendahnya kemampuan berpikir kritis, kognitif siswa terlihat dari hasil ulangan yang te-lah dilakukan oleh guru kelas terhadap pelajaran IPA. Hasil ulangan menunjukkan bah wa rata-rata nilai siswa masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu 67%, dan rata-rata ketuntasan kelas 75%. Afektif siswa juga masih rendah karena sistem pembelajaran yang selama ini digunakan, kemampuan afektif juga kurang mendapat perhatian, kemampuan afektif hanya dijadikan sebagai efek pengiring (nurturant effect) atau menjadi hidden curriculum, yang disisipkan da­lam kegiatan pembelajaran yang utama yaitu pembelajaran kognitif atau pembe­lajaran psikomotor.

Rendahnya kemampuan afektif siswa terlihat dari sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran seperti; masih banyak siswa yang tidak mengikuti pembelajaran dengan baik, kurang menger-jakan tugas yang diberikan guru, masih banyak siswa yang kurang mengahargai waktu, masih banyak siswa yang bermain saat guru menyampaikan dan menjelaskan materi dan tidak mem­per­hatikan penjelasan guru dengan baik.

Berdasarkan hasil pengamatan selama ini, masalah pada SD Negeri 2 Kembang Kerang Daya Lombok Timur yang paling penting dan mungkin untuk dicarikan solu sinya adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis, kognitif, dan afektif. Akar permasa-lahan yang menyebabkan masih kurang dan rendahnya kemampuan siswa tersebut ada-lah karena guru kurang memberikan kesempatan dan waktu pada siswa untuk berpar-tisipasi dalam proses pembelajaran dan selain itu strategi mengajar yang dipakai selama ini tidak menarik dan tidak sesuai dengan karakteristik pelajaran dan siswa, sehingga mereka kurang termotivasi dalam pembelajaran yang akhirnya mengakibatkan ren-dahnya hasil belajar.

 

3.      Strategi atau Pendekatan yang Saya Tawarkan sebagai upaya mengatasi permaslahan di Atas

Solusi yang dapat digunakan untuk perbaikan sistem pembelajaran IPA di kelas SD Negeri 2 Kembang Kerang Daya Lombok Timur adalah perlunya meningkatkan partisipasi semua siswa dalam proses pembelajaran dengan jalan memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya, mengikutsertakan semua siswa dalam mengungkapkan gagasan dan menilai gagasan yang diungkapkan sesama teman, serta mengikutsertakan semua siswa dalam memecahkan suatu permasalahan pada topik dan tema serta materi IPA yang dibicarakan/diajarkan, dan yang sangat penting dalam pembelajaran adalah pem­berian penghargaan pada siswa yang memiliki prestasi lebih dari temannya yang lain. Berkenaan pada masalah tersebut di atas, maka untuk meningkatkan kemampuan siswa ter­sebut, serta dengan memperhatikan berbagai konsep dan teori belajar dite-rapkan suatu model pembelajaran yang disebut dengan model pembelajaran Assurance, Relevance, Interest, Assessment, dan Satisfaction (ARIAS).

            Model pembelajaran ARIAS ini masih asing bagi guru-guru yang ada di wilayah gugus, sehingga belum ada sekolah yang mencoba menggunakan dalam pembelajatan di kelas, dari 7 sekolah yang ada di wilayah gugus Kembang Kerang bahkan di wilayah lebih luaspun seperti wilayah sekolah yang ada di kecamatan Aikmel. Menurut beberapa teori yang sudah saya baca model pemebelajaran ini sangat sesuai dengan semua situasi dan kondisi sekolah.

Model pembelajaran ARIAS telah terbukti dapat meningkatkan hasil dan prestasi belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Djamaah (1999)  di dua sekolah yang ber-beda (SD Negeri di Kota Palembang, Penelitian pertama) dan satu SD negeri di Sekayu, Kabupaten Musi Banyu Asin (penelitian kedua). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran ARIAS memberi pengaruh yang positif terhadap motivasi ber-prestasi dan hasil belajar siswa. Penelitian beri­kutnya dilakukan oleh Sa’adah dkk.di ke las X SMA Pasundan 2 Bandung tahun 2010, menunjukkan bahwa hasil model pem-belajaran ARIAS memberikan pengaruh yang sangat baik terhadap peningkatan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

Model pembelajaran ARIAS ini dapat digunakan oleh para guru sebagai dasar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, dan sebagai suatu alternatif dalam usaha meningkatkan kemampuan berprestasi dan hasil belajar siswa. Ber­dasarkan ba-nyak konsep dan teori tentang model pembelajaran ARIAS serta hasil penelitian yang dilakukan oleh dua peniliti diatas, maka model pembelajaran ARIAS dapat digunakan sebagai alternatif solusi untuk meningkatkan kemampuan dan hasil belajar IPA di kelas SD Negeri 2 Kembang Kerang Daya Lombok Timur NTB.

Mata pelajaran IPA dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis, in-duktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar, dan pengaruhnya terhadap manusia. Penyelesaian masalah IPA yang ter-kait dengan materi untuk berpikir kritis sangat diperlukan, karena dengan demikian segala permasalahan yang berhubungan dengan manusia yang dapat diatasi dengan baik dan bijaksana.

 

4.      Hasil dan Perubahan yang Terjadi

            Melalui penggunaan model pembelajaran ARIAS ke­mampuan yang dapat dimiliki siswa antara lain menunjukkan penerimaan dengan mengiyakan, mendengar-kan, dan menanggapi sesuatu (receiving), berperan serta dalam diskusi melalui kegiatan menanggapi (responding), mendukung atau menentang suatu gagasan (valuing), men-diskusikan permasalahan, merumuskan masalah, menyimpulkan suatu gagasan (organi-zation), dan kemampuan dalam mencari penyelesaian suatu masalah (characterization).

Model pembelajaran ARIAS dapat membantu siswa untuk menyadari diri ter-hadap adanya kemampuan yang dimilikinya sehingga termotivasi untuk belajar, saling mendorong dan membantu antara anggota kelompok dalam belajar secara optimal. Selain itu adanya kegiatan pendukung yang berasal dari dalam diri siswa berupa, rasa percaya diri (assurance), dapat menghubungkan antara pengetahuan awal yang sudah didapat dengan pengetahuan yang baru dipelajar (relevance) ide siswa, dapat mem-berikan dorongan motivasi atau minat (interest) belajar yang lebih giat. Model pem-belajaran ini juga dapat mendukung motivasi yang datang dari luar diri siswa berupa sistem penilaian yang diberikan oleh guru (assessment), penghargaan dan  penguatan (saticfaction) yang berupa kata-kata terpuji bagi siswa yang berprestasi atau kata-kata yang bijak bagi siswa yang belum berhasil.

 

5.      Pesan yang Dapat Dipelajari oleh Guru Lain dari Pengalaman Saya ini

            Setelah saya melakukan pembelajaran menggunakan model pembelajaran ARIAS semua guru tertarik terhadap model pembelahran tersebut. Tindak lanjut dari keter-tarikannya itu semua guru termasuk kepala sekolah bertanya dan minta untuk shering pengalaman terkait model pemebelaran ARIAS. Setelah saya berbagi dengan semua guru terkait pengenalan dan penerapatn model pembelajaran ARIAS, makas salah seorang guru berkomentar bahwa selama ini saya tidak pernah mendengar model pembelajaran tersebut yang disambut juga oleh semua guru. Dia juga kurang banyak membaca model-model pembelajaran yang inspiratif, sehingga guru tersebut mengakui bahwa dirinya miskin dalam menerapkan strategi pembelajaran. Tidak semua pelajaran dan dalam semua situasi dapat menggunakan strategi dan model pembelajaran yang sama, namun harus menggunakan dan mencoba semua strategi dalam pembelajaran, sehingga kelas menjadi lebih hidup dan siswa semakin termotivasi yag akhirnya membuat mereka bergairah untuk terus belajar.

 

DAFTAR RUJUKAN

Djamaah. 1999. Pengaruh Model Pembelajaran ARIAS Dan Motivasi Berprestasi Terhadap Hasil Belajar Siswa. Disertasi. Jakarta: PPS-IKIP Jakarta.

Sa’adah, Siahaan, P. Setiawan, W. 2010. Penerapan Model ARIAS dalam Pembel-ajaran TIK. Jurnal Pendidikan teknologi Informasi dan Komonikasi (PTIK), (Oline), Vol. 3 No. 1, (http://fileupi.edu, diakses 10 oktober 2011).

Suyono, M.S. Hariyanto. 2011. BelajardanPembelajaran, TeoridanKonsepDasar. Bandung. Rosda.

 

PROFIL SINGKAT

 

Ismail, Lahir di Kembang Kerang 31 Desember 1970, putra dari Bapak Sadenah dengan Umi Mahusin. Pedidikan Dasar di SDN Bagik Manis Tahun 1985, SMPN 1 Aikmel tahun 1988, melanjutkan ke SPGN Selong Lombok Timur lulus tahun 1991, melan-jutkan ke UNRAM Prodi D3 Pendidikan Biologi tahun 1998, menyelesaikan S1 di STKIP Hamzanwadi Selong Prodi S1 Pendidikan Biologi, menyelesaikan starata 2 di UM Malang Prodi S2 Pendidikan Biologi tahun 2012. Sekarang sedang menempuh program S3 Manajemen Pendidikan Islam di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Senin, 20 Desember 2021

 


Buku berjudul "Perkembangan Manusia" yang ditulis Profesor Keith Moore telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa. Buku ini dijadikan referensi penelitian ilmiah, dan dipilih oleh Komite Khusus di Amerika Serikat sebagai buku terbaik yang ditulis oleh satu orang. Kami bertemu dengan penulis buku ini dan menjelaskan kepadanya beberapa ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan spesialisnya di bidang embriologi.

Profesor Moore meyakinkan keterangan kami, sehingga kami mengajukan pertanyaan sebagai berikut: "Anda menyebutkan di buku Anda bahwa pada abad pertengahan tidak ada kemajuan dalam ilmu pengetahuan dalam bidang embriologi dan hanya sedikit yang tahu pada saat itu. Pada saat yang sama, al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau mengajarkan kepada masyarakat sesuai dengan apa yang Allah turunkan kepadanya. Di dalam al-Quran Juga menjelaskan gambaran penciptaan manusia secara detail dan perkembangan manusia pada fase yang berbeda. Anda adalah seorang ilmuwan yang ternama, namun, mengapa Anda tidak membela kebenaran dan menyebutkan kebenaran ini di dalam buku Anda?" Beliau menjawab: "Anda memiliki bukti dan saya tidak. Jadi, mengapa Anda tidak mempresentasikan hal itu kepada kami?"
Kami melengkapinya dengan bukti dan Profesor Moore ternyata terbukti menjadi seorang ilmuwan yang ternama. Dalam bukunya edisi ketiga, dia membuat beberapa tambahan. Buku ini telah diterjemahkan, sebagaimana yang kami sebutkan sebelumnya ke dalam delapan bahasa, termasuk bahasa Rusia, Cina, Jepang, Jerman, Italia; Portugis, dan Yugoslavia. Buku ini dapat dinikmati karena sudab tersebar ke seluruh dunia dan dibaca beberapa ilmuwan dunia yang terkenal.
Profesor Moore menyatakan di dalam bukunya tentang Abad Pertengahan bahwa:

 "Perkembangan ilmu pengetahuan berjalan secara lambat dari zaman pertengahan dan ada sedikit perkembangan penyelidikan dalam hal embriologi yang diusahakan selama abad ini sebagaimana yang telah kita ketahui. Hal ini dijelaskan di dalam al-Quran, kitab suci umat Muslim, manusia diciptakan dari sebuah campuran pengeluaran dari laki-laki dan perempuan. Beberapa referensi yang lain menyebutkan bahwa penciptaan manusia itu dari setetes mani (sperma) dan juga diharapkan bahwa hasil dari organisme itu terbentuk dalam janin perempuan seperti sebuah biji enam hari setelah permulaan (blastosit manusia mulai tertanam sekitar enam hari setelah pembuahan).

Al-Quran juga menyebutkan bahwa setetes mani itu berkembang menjadi segumpal darah yang membeku. Penanaman blastosit atau secara spontan gagal/gugur akan menyerupai segumpal darah secara konsep. Embrio juga dikatakan mirip segumpal zat/substansi seperti permen karet atau kayu (sesuatu yang mirip dengan gigi yang menandakan gumpalan zat).
Perkembangan embrio menjadi manusia pada hari keempat puluh sampai keempat puluh dua dan tidak lama kemudian fase ini mirip embrio binatang. Pada fase ini, embrio manusia mulai memperoleh sifat-sifat manusia. Al-Quran juga menjelaskan bahwa pertumbuhan embrio mengalami tiga kegelapan, pertama, dinding perut depan (ibu), kedua, dinding uterus, ketiga, membran Amniokhorionik. Ruangan yang tidak mengizinkan memperbincangkan beberapa referensi Yang menarik lainnya yang berkaitan dengan pertum­buhan manusia sebelum dilahirkan yang muncul di dalam al-Quran.
Hal ini sesuai dengan apa yang telah ditulis Prof. Moore di dalam bukunya. Segala puji bagi Allah. Dan sekarang telah disebarkan ke seluruh dunia. Kesesuaian antara ilmu pengetahuan dan al-Quran ini menjadikan kewajiban bagi Profesor Moore untuk menjelaskan hal ini di dalam bukunya. Dia menyimpulkan bahwa klasifikasi modern dari fase perkembangan embrio yang telah diterima di seluruh dunia tidaklah mudah atau lengkap. Hal ini tidak menolong pemahaman dari perkembangan fase embrio, sebab fase itu menurut basis angka, yaitu fase 1, fase 2, fase 3, dan seterusnya. Pembagian yang dijelaskan di dalam al-Quran tidak tergan­tung dengan sistem basis angka. Al-Quran mendasarkan pada perbedaan sesuai bentuk yang dilewati embrio agar mudah diidentifikasi.
Al-Quran menjelaskan fase perkembangan janin sebelum kelahiran sebagai berikut: Nutfah yang berarti "tetesan" atau air yang sedikit jumlahnya, alaqah yang berarti struktur seperti lintah, mudghah yang berarti struktur seperti kunyahan, `idhaam yang berarti tulang atau kerangka, kisaa ul-idham bil-laham yang berarti daging pembungkus tulang atau otot, dan an-nash'a yang berarti bentuk janin yang jelas. Profesor Moore telah mengetahui bahwa bagian ayat al-Quran ini benar­benar berdasarkan pada fase pertumbuhan janin sebelum masa kelahiran. Dia memberi cacatan bahwa bagian ini menunjukkan penggambaran secara ilmiah yang elegan yang mencakup banyak hal dan praktik.
Dalam suatu konferensi, Profesor Moore menyatakan sebagai berikut: Embrio berkembang di dalam kandungan ibu atau dilindungi uterus dengan tiga selubung atau lapisan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam kaca mikroskop. (A) Menggambarkan dinding perut depan, (B) Dinding Uterus (C) Membran Amniokhorinik. Sebab fase embrio manusia ini kompleks, memperlihatkan kelanjutan dari proses perubahan selama pertumbuhan, telah diusulkan bahwa sistem klasifikasi baru dapat dikembangkan dengan penggunaan istilah yang tersebut di dalam al-Quran dan Sunnah. Usulan ini sangat sederhana, luas, dan sesuai dengan ilmu pengetahuan tentang embriologi sekarang ini.
Studi al-Quran dan hadis secara intensif empat abad terakhir telah menurunkan sistem klasifikasi embrio manusia yang menakjubkan sejak al-Quran diturunkan pada abad ketujuh. Meskipun Aristoteles, penemu ilmu pengetahuan tentang embriologi, menyadari bahwa pertumbuhan embrio anak ayam pada fase dari penelitiannya terhadap telur ayam pada abad keempat. Dia tidak memberikan penjelasan secara mendetail tentang fase ini. Sejauh yang diketahui dari sejarah embriologi, hanya sedikit yang tahu tentang fase dan klasifikasinya embrio manusia sampai abad kedua puluh. Untuk alasan tersebut, gambaran embrio manusia di dalam al-Quran itu tidak berdasarkan ilmu pengetahuan secara ilmiah pada abad ketujuh. Hanya kesimpulan yang masuk akal bahwa gambaran ini diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAWBeliau tidak dapat mengetahui secara mendetail sebab beliau seorang yang buta huruf, yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan ilmiah.
Kami mengatakan kepada Profesor Moore, “Apa yang Anda katakan adalah benar, tetapi kebenaran itu kurang mutlak dibandingkan dengan bukti yang telah kami tunjukkan kepada Anda dari al-Quran dan sunnah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan embriologi khususnya. Oleh karena itu, mengapa Anda tidak mengerjakan kebenaran dan sama sekali tidak membawa cabang dari ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berhubungan dengan bidang spesialisasi atau keahlian Anda?”Profesor Moore mengatakan bahwa dia telah me­masukkan beberapa referensi yang sesuai pada tempat yang cocok dalam sebuah buku khusus ilmiah.

 


KEGELISAHAN

H. Ismail, SDN 2 Kembang Kerang Daya Aikmel Lotim NTB

 

Pada awal  tahun pembelajaran 2021/2022 di bulan Juli mulai masuk sekolah, hingga sampai saat ini perasaan cemas, gelisah, kepada siswa dan siswi yang berujung dengan hubungan kasih sayang antara guru dan siswa. Kecemasan yang saya alami terhadap siswa merupakan rasa kasih sayang dan ingin bertemu langsung dengannya merupakan sesuatu hal yang wajar. Namun berlebihan dalam mempertahankan kasih sayang tersebut, sehingga perasaan terus terbebani dengan berbagai macam penderitaan, rasa sakit dan kegelisahan. Rasa kegelisan dan kecemasan yang ada dalam diri saya tersebuat membuat hati saya menjadi tidak tenteram, merasa selalu khawatir, tidak tenang (tidurnya), tidak sabar (menanti), cemas dan sebagainya.

Kegelisahan yang saya alami ini timbul, sebenarnya datang dari dalam hati saya sendiri, karena di dalam pikiran saya ada sifat keakuan. Kadang kala khayalan saya melambung terlalu tinggi serta kesalahan diri saya dalam menilai setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi saat ini. Keakuan yang saya rasakan sendiri merupakan khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran terhadap situasi dan kondisi pendidikan saat ini. Namun saya berpikir dan merenung bahwa kegelisahan merupakan gejala universal yang alami ada pada manusia termasuk saya. Namun, kegelisahan ini hanya akan muncul disaat situasi dan kondisi yang tidak menentu. Kegelisahan yang saya alami ini merupakan sesuatu yang unik sebagai manifestasi dari perasaan tidak tenteram, khawatir, ataupun cemas.

Gejala ini saya alami tidak seperti biasanya, ditengah malam saya berjalan mondar-mandir dalam ruang sambil menundukkan kepala, sesaat saya duduk merenung sambil memegang kepala, duduk dengan wajah murung, dan malas bicara dengan anak dan istri. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan saya untuk dapat mengetahui hal-hal yang akan datang atau yang belum terjadi. Hal ini terjadi karena pada perasan saya ada suatu harapan, atau adanya ancaman terhadap situasi pendidikan ini. Saya takut dan merasa berdosa terhadap perilaku siswa dikarenakan tidak dapat mendidik dan megajar langsung lewat tatap muka.  Takut terhadap kurangnya akhlak siswa karena tidak memnuhi kepuasan spiritual, takut akan kehilangan masa-masa kebersamaan para siswa, atau takut terhadap keadaan masa depan siswa.

Dalam diri saya juga merasa bersalah takutnya ke spiritual juga, yaitu upaya berkumpul bersama siswa untuk menemukan dan memelihara sesuatu yang bermakna dalam kehidupannya siswa. Apabila sesuatu yang bermakna tersebut ditemukan seperti kebersamaan dengan siswa dan warga sekolah lainnya dalam canda dan tawa seperti masa normal sebelumnya, maka karakter akan semakin kuat di dalam diri siswa, terutama dalam proses pembelajaran langsung (tatap Muka) dan bagaimana untuk tetap menjaga dan mempertahankannya. Saya berpikir semakin seseorang memiliki makna akan hidupnya, semakin bahagia dan semakin efektif dalam menjalani kehidupannya.

Kegelisahan dalam hati saya ini juga disebabkan oleh kondisi covid 19 yang belum pasti berakhirnya. Apalagi sekarang pemerintah meberlakukan PPKM untuk menjaga penyebaran virus. Namun disisi lain pendidikan sangat menghawatirkan terutama dalam mencapai tujuan pendidikan yang salah stunya adalah membentuk akhlakul karimah. Pemahaman akan makna ini akan mendorong emosi positif baik dalam proses mencarinya, menemukannya dan mempertahankannya. Upaya yang kuat untuk mencarinya akan menghadirkan dorongan (courage) yang meliputi kemauan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut walaupun menghadapi rintangan, baik dari luar maupun dari dalam. Pada dorongan itu tercakup kekuatan karakter keberanian (bravery), kegigihan (persistence), semangat (zest).

Kegelisahan saya juga muncul karena tidak adanya kemampuan saya untuk membaca dunia dan mengetahui misteri covid ini. Saya sendiri sering tidak tahu mengapa situasi dunia seperti ini sehingga semua limit kehidupan semakin tidak menentu.

Kerinduan untuk bertemu dan berkumpul dengan warga sekolah terutama siswa siswa semakin kuat namun dihalangi oleh aturan dan regulasi yang lebih mengutamakan kesehatan masyarakat daripada lainnya. Untuk dapat bertemu dengan siswa dalam proses pembelajaran tatap muka, pihak sekolah harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Semua hal tersebut di atas membuat kegelisahan dalam hati semakin kuat terhadap pendidikan anak bangsa jika hal ini terusmenerus terjadi dan tidak ada ujungnya. 

Kegelisahan tersebut tidak boleh terus menerus berada dalam diri saya, untuk itu saya harus tegar dan terus mencari jalan keluar terhadap situasi saat ini. Agar saya bisa bertemu dengan siswa dan siswi dalam sekup kecil, maka saya meluangkan waktu untuk mengadakan home visit, yaitu mendatangi rumah siswa secara kelompok untuk mengadakan proses pembela jaran di rumahnya. Kegiatan-kegiatan ini terus saya lakukan selama covid dan tetap menjaga prokes. Hal ini saya lakukan untuk semakin mendekatkan keakraban dengan siswa dan wali siswa misalnya ngobrol atau diskusi hal-hal menarik lainnya selain pelajaran sekolah. Hal ini akan membantu saya untuk merasa aman, nyaman, tenang hati dan merasakan dukungan dari siswa maupun orang tuanya dan masyarakt sekitar.

Disamping itu, setelah melakukan home visit, sambil berjalan-jalan melihat keadaan alam berarti saya tetap terhubung dengan alam sehingga di sela-sela kesibukan mengajar dari rumah kerumah. Kegiatan ini juga dapay membantu diri saya mengatasi rasa cemas dan gelisah. Apalagi hal ini saya lakukan dengan naik sepeda keliling ke rumah-rumah siswa atau keluar masuk desa. Selain bisa menenangkan pikiran, kegiatan ini juga menyehatkan. selain terhubung dengan alam, saya juga dapat berinteraksi dan menjaga hubungan sosial.

 

#semuabisamenulis

#gurumotivatorliterasi

#forumindonesiamenulis

#gurumotivator

#majukanliterasiindinesia

Selasa, 04 Oktober 2011

kejadian manusia tahap dua


Buku berjudul "Perkembangan Manusia" yang ditulis Profesor Keith Moore telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa. Buku ini dijadikan referensi penelitian ilmiah, dan dipilih oleh Komite Khusus di Amerika Serikat sebagai buku terbaik yang ditulis oleh satu orang. Kami bertemu dengan penulis buku ini dan menjelaskan kepadanya beberapa ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan spesialisnya di bidang embriologi.

Profesor Moore meyakinkan keterangan kami, sehingga kami mengajukan pertanyaan sebagai berikut: "Anda menyebutkan di buku Anda bahwa pada abad pertengahan tidak ada kemajuan dalam ilmu pengetahuan dalam bidang embriologi dan hanya sedikit yang tahu pada saat itu. Pada saat yang sama, al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau mengajarkan kepada masyarakat sesuai dengan apa yang Allah turunkan kepadanya. Di dalam al-Quran Juga menjelaskan gambaran penciptaan manusia secara detail dan perkembangan manusia pada fase yang berbeda. Anda adalah seorang ilmuwan yang ternama, namun, mengapa Anda tidak membela kebenaran dan menyebutkan kebenaran ini di dalam buku Anda?" Beliau menjawab: "Anda memiliki bukti dan saya tidak. Jadi, mengapa Anda tidak mempresentasikan hal itu kepada kami?"
Kami melengkapinya dengan bukti dan Profesor Moore ternyata terbukti menjadi seorang ilmuwan yang ternama. Dalam bukunya edisi ketiga, dia membuat beberapa tambahan. Buku ini telah diterjemahkan, sebagaimana yang kami sebutkan sebelumnya ke dalam delapan bahasa, termasuk bahasa Rusia, Cina, Jepang, Jerman, Italia; Portugis, dan Yugoslavia. Buku ini dapat dinikmati karena sudab tersebar ke seluruh dunia dan dibaca beberapa ilmuwan dunia yang terkenal.
Profesor Moore menyatakan di dalam bukunya tentang Abad Pertengahan bahwa:

 "Perkembangan ilmu pengetahuan berjalan secara lambat dari zaman pertengahan dan ada sedikit perkembangan penyelidikan dalam hal embriologi yang diusahakan selama abad ini sebagaimana yang telah kita ketahui. Hal ini dijelaskan di dalam al-Quran, kitab suci umat Muslim, manusia diciptakan dari sebuah campuran pengeluaran dari laki-laki dan perempuan. Beberapa referensi yang lain menyebutkan bahwa penciptaan manusia itu dari setetes mani (sperma) dan juga diharapkan bahwa hasil dari organisme itu terbentuk dalam janin perempuan seperti sebuah biji enam hari setelah permulaan (blastosit manusia mulai tertanam sekitar enam hari setelah pembuahan).

Al-Quran juga menyebutkan bahwa setetes mani itu berkembang menjadi segumpal darah yang membeku. Penanaman blastosit atau secara spontan gagal/gugur akan menyerupai segumpal darah secara konsep. Embrio juga dikatakan mirip segumpal zat/substansi seperti permen karet atau kayu (sesuatu yang mirip dengan gigi yang menandakan gumpalan zat).
Perkembangan embrio menjadi manusia pada hari keempat puluh sampai keempat puluh dua dan tidak lama kemudian fase ini mirip embrio binatang. Pada fase ini, embrio manusia mulai memperoleh sifat-sifat manusia. Al-Quran juga menjelaskan bahwa pertumbuhan embrio mengalami tiga kegelapan, pertama, dinding perut depan (ibu), kedua, dinding uterus, ketiga, membran Amniokhorionik. Ruangan yang tidak mengizinkan memperbincangkan beberapa referensi Yang menarik lainnya yang berkaitan dengan pertum­buhan manusia sebelum dilahirkan yang muncul di dalam al-Quran.
Hal ini sesuai dengan apa yang telah ditulis Prof. Moore di dalam bukunya. Segala puji bagi Allah. Dan sekarang telah disebarkan ke seluruh dunia. Kesesuaian antara ilmu pengetahuan dan al-Quran ini menjadikan kewajiban bagi Profesor Moore untuk menjelaskan hal ini di dalam bukunya. Dia menyimpulkan bahwa klasifikasi modern dari fase perkembangan embrio yang telah diterima di seluruh dunia tidaklah mudah atau lengkap. Hal ini tidak menolong pemahaman dari perkembangan fase embrio, sebab fase itu menurut basis angka, yaitu fase 1, fase 2, fase 3, dan seterusnya. Pembagian yang dijelaskan di dalam al-Quran tidak tergan­tung dengan sistem basis angka. Al-Quran mendasarkan pada perbedaan sesuai bentuk yang dilewati embrio agar mudah diidentifikasi.
Al-Quran menjelaskan fase perkembangan janin sebelum kelahiran sebagai berikut: Nutfah yang berarti "tetesan" atau air yang sedikit jumlahnya, alaqah yang berarti struktur seperti lintah, mudghah yang berarti struktur seperti kunyahan, `idhaam yang berarti tulang atau kerangka, kisaa ul-idham bil-laham yang berarti daging pembungkus tulang atau otot, dan an-nash'a yang berarti bentuk janin yang jelas. Profesor Moore telah mengetahui bahwa bagian ayat al-Quran ini benar­benar berdasarkan pada fase pertumbuhan janin sebelum masa kelahiran. Dia memberi cacatan bahwa bagian ini menunjukkan penggambaran secara ilmiah yang elegan yang mencakup banyak hal dan praktik.
Dalam suatu konferensi, Profesor Moore menyatakan sebagai berikut: Embrio berkembang di dalam kandungan ibu atau dilindungi uterus dengan tiga selubung atau lapisan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam kaca mikroskop. (A) Menggambarkan dinding perut depan, (B) Dinding Uterus (C) Membran Amniokhorinik. Sebab fase embrio manusia ini kompleks, memperlihatkan kelanjutan dari proses perubahan selama pertumbuhan, telah diusulkan bahwa sistem klasifikasi baru dapat dikembangkan dengan penggunaan istilah yang tersebut di dalam al-Quran dan Sunnah. Usulan ini sangat sederhana, luas, dan sesuai dengan ilmu pengetahuan tentang embriologi sekarang ini.
Studi al-Quran dan hadis secara intensif empat abad terakhir telah menurunkan sistem klasifikasi embrio manusia yang menakjubkan sejak al-Quran diturunkan pada abad ketujuh. Meskipun Aristoteles, penemu ilmu pengetahuan tentang embriologi, menyadari bahwa pertumbuhan embrio anak ayam pada fase dari penelitiannya terhadap telur ayam pada abad keempat. Dia tidak memberikan penjelasan secara mendetail tentang fase ini. Sejauh yang diketahui dari sejarah embriologi, hanya sedikit yang tahu tentang fase dan klasifikasinya embrio manusia sampai abad kedua puluh. Untuk alasan tersebut, gambaran embrio manusia di dalam al-Quran itu tidak berdasarkan ilmu pengetahuan secara ilmiah pada abad ketujuh. Hanya kesimpulan yang masuk akal bahwa gambaran ini diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak dapat mengetahui secara mendetail sebab beliau seorang yang buta huruf, yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan ilmiah.
Kami mengatakan kepada Profesor Moore, “Apa yang Anda katakan adalah benar, tetapi kebenaran itu kurang mutlak dibandingkan dengan bukti yang telah kami tunjukkan kepada Anda dari al-Quran dan sunnah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan embriologi khususnya. Oleh karena itu, mengapa Anda tidak mengerjakan kebenaran dan sama sekali tidak membawa cabang dari ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berhubungan dengan bidang spesialisasi atau keahlian Anda?”Profesor Moore mengatakan bahwa dia telah me­masukkan beberapa referensi yang sesuai pada tempat yang cocok dalam sebuah buku khusus ilmiah.