Senin, 20 Desember 2021

 


Buku berjudul "Perkembangan Manusia" yang ditulis Profesor Keith Moore telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa. Buku ini dijadikan referensi penelitian ilmiah, dan dipilih oleh Komite Khusus di Amerika Serikat sebagai buku terbaik yang ditulis oleh satu orang. Kami bertemu dengan penulis buku ini dan menjelaskan kepadanya beberapa ayat al-Quran dan hadis yang berkaitan dengan spesialisnya di bidang embriologi.

Profesor Moore meyakinkan keterangan kami, sehingga kami mengajukan pertanyaan sebagai berikut: "Anda menyebutkan di buku Anda bahwa pada abad pertengahan tidak ada kemajuan dalam ilmu pengetahuan dalam bidang embriologi dan hanya sedikit yang tahu pada saat itu. Pada saat yang sama, al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan beliau mengajarkan kepada masyarakat sesuai dengan apa yang Allah turunkan kepadanya. Di dalam al-Quran Juga menjelaskan gambaran penciptaan manusia secara detail dan perkembangan manusia pada fase yang berbeda. Anda adalah seorang ilmuwan yang ternama, namun, mengapa Anda tidak membela kebenaran dan menyebutkan kebenaran ini di dalam buku Anda?" Beliau menjawab: "Anda memiliki bukti dan saya tidak. Jadi, mengapa Anda tidak mempresentasikan hal itu kepada kami?"
Kami melengkapinya dengan bukti dan Profesor Moore ternyata terbukti menjadi seorang ilmuwan yang ternama. Dalam bukunya edisi ketiga, dia membuat beberapa tambahan. Buku ini telah diterjemahkan, sebagaimana yang kami sebutkan sebelumnya ke dalam delapan bahasa, termasuk bahasa Rusia, Cina, Jepang, Jerman, Italia; Portugis, dan Yugoslavia. Buku ini dapat dinikmati karena sudab tersebar ke seluruh dunia dan dibaca beberapa ilmuwan dunia yang terkenal.
Profesor Moore menyatakan di dalam bukunya tentang Abad Pertengahan bahwa:

 "Perkembangan ilmu pengetahuan berjalan secara lambat dari zaman pertengahan dan ada sedikit perkembangan penyelidikan dalam hal embriologi yang diusahakan selama abad ini sebagaimana yang telah kita ketahui. Hal ini dijelaskan di dalam al-Quran, kitab suci umat Muslim, manusia diciptakan dari sebuah campuran pengeluaran dari laki-laki dan perempuan. Beberapa referensi yang lain menyebutkan bahwa penciptaan manusia itu dari setetes mani (sperma) dan juga diharapkan bahwa hasil dari organisme itu terbentuk dalam janin perempuan seperti sebuah biji enam hari setelah permulaan (blastosit manusia mulai tertanam sekitar enam hari setelah pembuahan).

Al-Quran juga menyebutkan bahwa setetes mani itu berkembang menjadi segumpal darah yang membeku. Penanaman blastosit atau secara spontan gagal/gugur akan menyerupai segumpal darah secara konsep. Embrio juga dikatakan mirip segumpal zat/substansi seperti permen karet atau kayu (sesuatu yang mirip dengan gigi yang menandakan gumpalan zat).
Perkembangan embrio menjadi manusia pada hari keempat puluh sampai keempat puluh dua dan tidak lama kemudian fase ini mirip embrio binatang. Pada fase ini, embrio manusia mulai memperoleh sifat-sifat manusia. Al-Quran juga menjelaskan bahwa pertumbuhan embrio mengalami tiga kegelapan, pertama, dinding perut depan (ibu), kedua, dinding uterus, ketiga, membran Amniokhorionik. Ruangan yang tidak mengizinkan memperbincangkan beberapa referensi Yang menarik lainnya yang berkaitan dengan pertum­buhan manusia sebelum dilahirkan yang muncul di dalam al-Quran.
Hal ini sesuai dengan apa yang telah ditulis Prof. Moore di dalam bukunya. Segala puji bagi Allah. Dan sekarang telah disebarkan ke seluruh dunia. Kesesuaian antara ilmu pengetahuan dan al-Quran ini menjadikan kewajiban bagi Profesor Moore untuk menjelaskan hal ini di dalam bukunya. Dia menyimpulkan bahwa klasifikasi modern dari fase perkembangan embrio yang telah diterima di seluruh dunia tidaklah mudah atau lengkap. Hal ini tidak menolong pemahaman dari perkembangan fase embrio, sebab fase itu menurut basis angka, yaitu fase 1, fase 2, fase 3, dan seterusnya. Pembagian yang dijelaskan di dalam al-Quran tidak tergan­tung dengan sistem basis angka. Al-Quran mendasarkan pada perbedaan sesuai bentuk yang dilewati embrio agar mudah diidentifikasi.
Al-Quran menjelaskan fase perkembangan janin sebelum kelahiran sebagai berikut: Nutfah yang berarti "tetesan" atau air yang sedikit jumlahnya, alaqah yang berarti struktur seperti lintah, mudghah yang berarti struktur seperti kunyahan, `idhaam yang berarti tulang atau kerangka, kisaa ul-idham bil-laham yang berarti daging pembungkus tulang atau otot, dan an-nash'a yang berarti bentuk janin yang jelas. Profesor Moore telah mengetahui bahwa bagian ayat al-Quran ini benar­benar berdasarkan pada fase pertumbuhan janin sebelum masa kelahiran. Dia memberi cacatan bahwa bagian ini menunjukkan penggambaran secara ilmiah yang elegan yang mencakup banyak hal dan praktik.
Dalam suatu konferensi, Profesor Moore menyatakan sebagai berikut: Embrio berkembang di dalam kandungan ibu atau dilindungi uterus dengan tiga selubung atau lapisan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam kaca mikroskop. (A) Menggambarkan dinding perut depan, (B) Dinding Uterus (C) Membran Amniokhorinik. Sebab fase embrio manusia ini kompleks, memperlihatkan kelanjutan dari proses perubahan selama pertumbuhan, telah diusulkan bahwa sistem klasifikasi baru dapat dikembangkan dengan penggunaan istilah yang tersebut di dalam al-Quran dan Sunnah. Usulan ini sangat sederhana, luas, dan sesuai dengan ilmu pengetahuan tentang embriologi sekarang ini.
Studi al-Quran dan hadis secara intensif empat abad terakhir telah menurunkan sistem klasifikasi embrio manusia yang menakjubkan sejak al-Quran diturunkan pada abad ketujuh. Meskipun Aristoteles, penemu ilmu pengetahuan tentang embriologi, menyadari bahwa pertumbuhan embrio anak ayam pada fase dari penelitiannya terhadap telur ayam pada abad keempat. Dia tidak memberikan penjelasan secara mendetail tentang fase ini. Sejauh yang diketahui dari sejarah embriologi, hanya sedikit yang tahu tentang fase dan klasifikasinya embrio manusia sampai abad kedua puluh. Untuk alasan tersebut, gambaran embrio manusia di dalam al-Quran itu tidak berdasarkan ilmu pengetahuan secara ilmiah pada abad ketujuh. Hanya kesimpulan yang masuk akal bahwa gambaran ini diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAWBeliau tidak dapat mengetahui secara mendetail sebab beliau seorang yang buta huruf, yang sama sekali tidak mengenyam pendidikan ilmiah.
Kami mengatakan kepada Profesor Moore, “Apa yang Anda katakan adalah benar, tetapi kebenaran itu kurang mutlak dibandingkan dengan bukti yang telah kami tunjukkan kepada Anda dari al-Quran dan sunnah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan embriologi khususnya. Oleh karena itu, mengapa Anda tidak mengerjakan kebenaran dan sama sekali tidak membawa cabang dari ayat-ayat al-Quran dan hadis yang berhubungan dengan bidang spesialisasi atau keahlian Anda?”Profesor Moore mengatakan bahwa dia telah me­masukkan beberapa referensi yang sesuai pada tempat yang cocok dalam sebuah buku khusus ilmiah.

 


KEGELISAHAN

H. Ismail, SDN 2 Kembang Kerang Daya Aikmel Lotim NTB

 

Pada awal  tahun pembelajaran 2021/2022 di bulan Juli mulai masuk sekolah, hingga sampai saat ini perasaan cemas, gelisah, kepada siswa dan siswi yang berujung dengan hubungan kasih sayang antara guru dan siswa. Kecemasan yang saya alami terhadap siswa merupakan rasa kasih sayang dan ingin bertemu langsung dengannya merupakan sesuatu hal yang wajar. Namun berlebihan dalam mempertahankan kasih sayang tersebut, sehingga perasaan terus terbebani dengan berbagai macam penderitaan, rasa sakit dan kegelisahan. Rasa kegelisan dan kecemasan yang ada dalam diri saya tersebuat membuat hati saya menjadi tidak tenteram, merasa selalu khawatir, tidak tenang (tidurnya), tidak sabar (menanti), cemas dan sebagainya.

Kegelisahan yang saya alami ini timbul, sebenarnya datang dari dalam hati saya sendiri, karena di dalam pikiran saya ada sifat keakuan. Kadang kala khayalan saya melambung terlalu tinggi serta kesalahan diri saya dalam menilai setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi saat ini. Keakuan yang saya rasakan sendiri merupakan khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran terhadap situasi dan kondisi pendidikan saat ini. Namun saya berpikir dan merenung bahwa kegelisahan merupakan gejala universal yang alami ada pada manusia termasuk saya. Namun, kegelisahan ini hanya akan muncul disaat situasi dan kondisi yang tidak menentu. Kegelisahan yang saya alami ini merupakan sesuatu yang unik sebagai manifestasi dari perasaan tidak tenteram, khawatir, ataupun cemas.

Gejala ini saya alami tidak seperti biasanya, ditengah malam saya berjalan mondar-mandir dalam ruang sambil menundukkan kepala, sesaat saya duduk merenung sambil memegang kepala, duduk dengan wajah murung, dan malas bicara dengan anak dan istri. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan saya untuk dapat mengetahui hal-hal yang akan datang atau yang belum terjadi. Hal ini terjadi karena pada perasan saya ada suatu harapan, atau adanya ancaman terhadap situasi pendidikan ini. Saya takut dan merasa berdosa terhadap perilaku siswa dikarenakan tidak dapat mendidik dan megajar langsung lewat tatap muka.  Takut terhadap kurangnya akhlak siswa karena tidak memnuhi kepuasan spiritual, takut akan kehilangan masa-masa kebersamaan para siswa, atau takut terhadap keadaan masa depan siswa.

Dalam diri saya juga merasa bersalah takutnya ke spiritual juga, yaitu upaya berkumpul bersama siswa untuk menemukan dan memelihara sesuatu yang bermakna dalam kehidupannya siswa. Apabila sesuatu yang bermakna tersebut ditemukan seperti kebersamaan dengan siswa dan warga sekolah lainnya dalam canda dan tawa seperti masa normal sebelumnya, maka karakter akan semakin kuat di dalam diri siswa, terutama dalam proses pembelajaran langsung (tatap Muka) dan bagaimana untuk tetap menjaga dan mempertahankannya. Saya berpikir semakin seseorang memiliki makna akan hidupnya, semakin bahagia dan semakin efektif dalam menjalani kehidupannya.

Kegelisahan dalam hati saya ini juga disebabkan oleh kondisi covid 19 yang belum pasti berakhirnya. Apalagi sekarang pemerintah meberlakukan PPKM untuk menjaga penyebaran virus. Namun disisi lain pendidikan sangat menghawatirkan terutama dalam mencapai tujuan pendidikan yang salah stunya adalah membentuk akhlakul karimah. Pemahaman akan makna ini akan mendorong emosi positif baik dalam proses mencarinya, menemukannya dan mempertahankannya. Upaya yang kuat untuk mencarinya akan menghadirkan dorongan (courage) yang meliputi kemauan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut walaupun menghadapi rintangan, baik dari luar maupun dari dalam. Pada dorongan itu tercakup kekuatan karakter keberanian (bravery), kegigihan (persistence), semangat (zest).

Kegelisahan saya juga muncul karena tidak adanya kemampuan saya untuk membaca dunia dan mengetahui misteri covid ini. Saya sendiri sering tidak tahu mengapa situasi dunia seperti ini sehingga semua limit kehidupan semakin tidak menentu.

Kerinduan untuk bertemu dan berkumpul dengan warga sekolah terutama siswa siswa semakin kuat namun dihalangi oleh aturan dan regulasi yang lebih mengutamakan kesehatan masyarakat daripada lainnya. Untuk dapat bertemu dengan siswa dalam proses pembelajaran tatap muka, pihak sekolah harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Semua hal tersebut di atas membuat kegelisahan dalam hati semakin kuat terhadap pendidikan anak bangsa jika hal ini terusmenerus terjadi dan tidak ada ujungnya. 

Kegelisahan tersebut tidak boleh terus menerus berada dalam diri saya, untuk itu saya harus tegar dan terus mencari jalan keluar terhadap situasi saat ini. Agar saya bisa bertemu dengan siswa dan siswi dalam sekup kecil, maka saya meluangkan waktu untuk mengadakan home visit, yaitu mendatangi rumah siswa secara kelompok untuk mengadakan proses pembela jaran di rumahnya. Kegiatan-kegiatan ini terus saya lakukan selama covid dan tetap menjaga prokes. Hal ini saya lakukan untuk semakin mendekatkan keakraban dengan siswa dan wali siswa misalnya ngobrol atau diskusi hal-hal menarik lainnya selain pelajaran sekolah. Hal ini akan membantu saya untuk merasa aman, nyaman, tenang hati dan merasakan dukungan dari siswa maupun orang tuanya dan masyarakt sekitar.

Disamping itu, setelah melakukan home visit, sambil berjalan-jalan melihat keadaan alam berarti saya tetap terhubung dengan alam sehingga di sela-sela kesibukan mengajar dari rumah kerumah. Kegiatan ini juga dapay membantu diri saya mengatasi rasa cemas dan gelisah. Apalagi hal ini saya lakukan dengan naik sepeda keliling ke rumah-rumah siswa atau keluar masuk desa. Selain bisa menenangkan pikiran, kegiatan ini juga menyehatkan. selain terhubung dengan alam, saya juga dapat berinteraksi dan menjaga hubungan sosial.

 

#semuabisamenulis

#gurumotivatorliterasi

#forumindonesiamenulis

#gurumotivator

#majukanliterasiindinesia