Senin, 20 Desember 2021

 


KEGELISAHAN

H. Ismail, SDN 2 Kembang Kerang Daya Aikmel Lotim NTB

 

Pada awal  tahun pembelajaran 2021/2022 di bulan Juli mulai masuk sekolah, hingga sampai saat ini perasaan cemas, gelisah, kepada siswa dan siswi yang berujung dengan hubungan kasih sayang antara guru dan siswa. Kecemasan yang saya alami terhadap siswa merupakan rasa kasih sayang dan ingin bertemu langsung dengannya merupakan sesuatu hal yang wajar. Namun berlebihan dalam mempertahankan kasih sayang tersebut, sehingga perasaan terus terbebani dengan berbagai macam penderitaan, rasa sakit dan kegelisahan. Rasa kegelisan dan kecemasan yang ada dalam diri saya tersebuat membuat hati saya menjadi tidak tenteram, merasa selalu khawatir, tidak tenang (tidurnya), tidak sabar (menanti), cemas dan sebagainya.

Kegelisahan yang saya alami ini timbul, sebenarnya datang dari dalam hati saya sendiri, karena di dalam pikiran saya ada sifat keakuan. Kadang kala khayalan saya melambung terlalu tinggi serta kesalahan diri saya dalam menilai setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi saat ini. Keakuan yang saya rasakan sendiri merupakan khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran terhadap situasi dan kondisi pendidikan saat ini. Namun saya berpikir dan merenung bahwa kegelisahan merupakan gejala universal yang alami ada pada manusia termasuk saya. Namun, kegelisahan ini hanya akan muncul disaat situasi dan kondisi yang tidak menentu. Kegelisahan yang saya alami ini merupakan sesuatu yang unik sebagai manifestasi dari perasaan tidak tenteram, khawatir, ataupun cemas.

Gejala ini saya alami tidak seperti biasanya, ditengah malam saya berjalan mondar-mandir dalam ruang sambil menundukkan kepala, sesaat saya duduk merenung sambil memegang kepala, duduk dengan wajah murung, dan malas bicara dengan anak dan istri. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan saya untuk dapat mengetahui hal-hal yang akan datang atau yang belum terjadi. Hal ini terjadi karena pada perasan saya ada suatu harapan, atau adanya ancaman terhadap situasi pendidikan ini. Saya takut dan merasa berdosa terhadap perilaku siswa dikarenakan tidak dapat mendidik dan megajar langsung lewat tatap muka.  Takut terhadap kurangnya akhlak siswa karena tidak memnuhi kepuasan spiritual, takut akan kehilangan masa-masa kebersamaan para siswa, atau takut terhadap keadaan masa depan siswa.

Dalam diri saya juga merasa bersalah takutnya ke spiritual juga, yaitu upaya berkumpul bersama siswa untuk menemukan dan memelihara sesuatu yang bermakna dalam kehidupannya siswa. Apabila sesuatu yang bermakna tersebut ditemukan seperti kebersamaan dengan siswa dan warga sekolah lainnya dalam canda dan tawa seperti masa normal sebelumnya, maka karakter akan semakin kuat di dalam diri siswa, terutama dalam proses pembelajaran langsung (tatap Muka) dan bagaimana untuk tetap menjaga dan mempertahankannya. Saya berpikir semakin seseorang memiliki makna akan hidupnya, semakin bahagia dan semakin efektif dalam menjalani kehidupannya.

Kegelisahan dalam hati saya ini juga disebabkan oleh kondisi covid 19 yang belum pasti berakhirnya. Apalagi sekarang pemerintah meberlakukan PPKM untuk menjaga penyebaran virus. Namun disisi lain pendidikan sangat menghawatirkan terutama dalam mencapai tujuan pendidikan yang salah stunya adalah membentuk akhlakul karimah. Pemahaman akan makna ini akan mendorong emosi positif baik dalam proses mencarinya, menemukannya dan mempertahankannya. Upaya yang kuat untuk mencarinya akan menghadirkan dorongan (courage) yang meliputi kemauan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut walaupun menghadapi rintangan, baik dari luar maupun dari dalam. Pada dorongan itu tercakup kekuatan karakter keberanian (bravery), kegigihan (persistence), semangat (zest).

Kegelisahan saya juga muncul karena tidak adanya kemampuan saya untuk membaca dunia dan mengetahui misteri covid ini. Saya sendiri sering tidak tahu mengapa situasi dunia seperti ini sehingga semua limit kehidupan semakin tidak menentu.

Kerinduan untuk bertemu dan berkumpul dengan warga sekolah terutama siswa siswa semakin kuat namun dihalangi oleh aturan dan regulasi yang lebih mengutamakan kesehatan masyarakat daripada lainnya. Untuk dapat bertemu dengan siswa dalam proses pembelajaran tatap muka, pihak sekolah harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Semua hal tersebut di atas membuat kegelisahan dalam hati semakin kuat terhadap pendidikan anak bangsa jika hal ini terusmenerus terjadi dan tidak ada ujungnya. 

Kegelisahan tersebut tidak boleh terus menerus berada dalam diri saya, untuk itu saya harus tegar dan terus mencari jalan keluar terhadap situasi saat ini. Agar saya bisa bertemu dengan siswa dan siswi dalam sekup kecil, maka saya meluangkan waktu untuk mengadakan home visit, yaitu mendatangi rumah siswa secara kelompok untuk mengadakan proses pembela jaran di rumahnya. Kegiatan-kegiatan ini terus saya lakukan selama covid dan tetap menjaga prokes. Hal ini saya lakukan untuk semakin mendekatkan keakraban dengan siswa dan wali siswa misalnya ngobrol atau diskusi hal-hal menarik lainnya selain pelajaran sekolah. Hal ini akan membantu saya untuk merasa aman, nyaman, tenang hati dan merasakan dukungan dari siswa maupun orang tuanya dan masyarakt sekitar.

Disamping itu, setelah melakukan home visit, sambil berjalan-jalan melihat keadaan alam berarti saya tetap terhubung dengan alam sehingga di sela-sela kesibukan mengajar dari rumah kerumah. Kegiatan ini juga dapay membantu diri saya mengatasi rasa cemas dan gelisah. Apalagi hal ini saya lakukan dengan naik sepeda keliling ke rumah-rumah siswa atau keluar masuk desa. Selain bisa menenangkan pikiran, kegiatan ini juga menyehatkan. selain terhubung dengan alam, saya juga dapat berinteraksi dan menjaga hubungan sosial.

 

#semuabisamenulis

#gurumotivatorliterasi

#forumindonesiamenulis

#gurumotivator

#majukanliterasiindinesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar