KEGELISAHAN
H. Ismail, SDN
2 Kembang Kerang Daya Aikmel Lotim NTB
Pada
awal tahun pembelajaran 2021/2022 di
bulan Juli mulai masuk sekolah, hingga sampai saat ini perasaan cemas, gelisah,
kepada siswa dan siswi yang berujung dengan hubungan kasih sayang antara guru
dan siswa. Kecemasan yang saya alami terhadap siswa merupakan rasa kasih sayang dan ingin bertemu langsung
dengannya merupakan sesuatu hal yang wajar. Namun berlebihan dalam
mempertahankan kasih sayang tersebut, sehingga perasaan terus terbebani dengan
berbagai macam penderitaan, rasa sakit dan kegelisahan. Rasa kegelisan dan
kecemasan yang ada dalam diri saya tersebuat membuat hati saya menjadi tidak
tenteram, merasa selalu khawatir, tidak tenang (tidurnya), tidak sabar
(menanti), cemas dan sebagainya.
Kegelisahan
yang saya alami ini timbul, sebenarnya datang dari dalam hati saya sendiri, karena
di dalam pikiran saya ada sifat keakuan. Kadang kala khayalan saya melambung
terlalu tinggi serta kesalahan diri saya dalam menilai setiap kejadian atau
peristiwa yang terjadi saat ini. Keakuan yang saya rasakan sendiri merupakan
khayalan liar yang membawa kekacauan dalam pikiran terhadap situasi dan kondisi
pendidikan saat ini. Namun saya berpikir dan merenung bahwa kegelisahan
merupakan gejala universal yang alami ada pada manusia termasuk saya. Namun,
kegelisahan ini hanya akan muncul disaat situasi dan kondisi yang tidak menentu.
Kegelisahan yang saya alami ini merupakan sesuatu yang unik sebagai manifestasi
dari perasaan tidak tenteram, khawatir, ataupun cemas.
Gejala
ini saya alami tidak seperti biasanya, ditengah malam saya berjalan
mondar-mandir dalam ruang sambil menundukkan kepala, sesaat saya duduk merenung
sambil memegang kepala, duduk dengan wajah murung, dan malas bicara dengan anak
dan istri. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan saya untuk dapat
mengetahui hal-hal yang akan datang atau yang belum terjadi. Hal ini terjadi
karena pada perasan saya ada suatu harapan, atau adanya ancaman terhadap
situasi pendidikan ini. Saya takut dan merasa berdosa terhadap perilaku siswa
dikarenakan tidak dapat mendidik dan megajar langsung lewat tatap muka. Takut terhadap kurangnya akhlak siswa karena
tidak memnuhi kepuasan spiritual, takut akan kehilangan masa-masa kebersamaan
para siswa, atau takut terhadap keadaan masa depan siswa.
Dalam
diri saya juga merasa bersalah takutnya ke spiritual juga, yaitu upaya berkumpul
bersama siswa untuk menemukan dan memelihara sesuatu yang bermakna dalam
kehidupannya siswa. Apabila sesuatu yang bermakna tersebut ditemukan seperti
kebersamaan dengan siswa dan warga sekolah lainnya dalam canda dan tawa seperti
masa normal sebelumnya, maka karakter akan semakin kuat di dalam diri siswa,
terutama dalam proses pembelajaran langsung (tatap Muka) dan bagaimana untuk
tetap menjaga dan mempertahankannya. Saya berpikir semakin seseorang memiliki
makna akan hidupnya, semakin bahagia dan semakin efektif dalam menjalani kehidupannya.
Kegelisahan
dalam hati saya ini juga disebabkan oleh kondisi covid 19 yang belum pasti
berakhirnya. Apalagi sekarang pemerintah meberlakukan PPKM untuk menjaga
penyebaran virus. Namun disisi lain pendidikan sangat menghawatirkan terutama
dalam mencapai tujuan pendidikan yang salah stunya adalah membentuk akhlakul
karimah. Pemahaman akan makna ini akan mendorong emosi positif baik dalam
proses mencarinya, menemukannya dan mempertahankannya. Upaya yang kuat untuk
mencarinya akan menghadirkan dorongan (courage) yang meliputi kemauan
untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut walaupun menghadapi rintangan, baik
dari luar maupun dari dalam. Pada dorongan itu tercakup kekuatan karakter
keberanian (bravery), kegigihan (persistence), semangat (zest).
Kegelisahan
saya juga muncul karena tidak adanya kemampuan saya untuk membaca dunia dan mengetahui
misteri covid ini. Saya sendiri sering tidak tahu mengapa situasi dunia seperti
ini sehingga semua limit kehidupan semakin tidak menentu.
Kerinduan
untuk bertemu dan berkumpul dengan warga sekolah terutama siswa siswa semakin
kuat namun dihalangi oleh aturan dan regulasi yang lebih mengutamakan kesehatan
masyarakat daripada lainnya. Untuk dapat bertemu dengan siswa dalam proses
pembelajaran tatap muka, pihak sekolah harus tetap mematuhi protokol kesehatan.
Semua hal tersebut di atas membuat kegelisahan dalam hati semakin kuat terhadap
pendidikan anak bangsa jika hal ini terusmenerus terjadi dan tidak ada
ujungnya.
Kegelisahan
tersebut tidak boleh terus menerus berada dalam diri saya, untuk itu saya harus
tegar dan terus mencari jalan keluar terhadap situasi saat ini. Agar saya bisa
bertemu dengan siswa dan siswi dalam sekup kecil, maka saya meluangkan waktu untuk
mengadakan home visit, yaitu mendatangi rumah siswa secara kelompok untuk
mengadakan proses pembela jaran di rumahnya. Kegiatan-kegiatan ini terus saya lakukan
selama covid dan tetap menjaga prokes. Hal ini saya lakukan untuk semakin
mendekatkan keakraban dengan siswa dan wali siswa misalnya ngobrol atau diskusi
hal-hal menarik lainnya selain pelajaran sekolah. Hal ini akan membantu saya
untuk merasa aman, nyaman, tenang hati dan merasakan dukungan dari siswa maupun
orang tuanya dan masyarakt sekitar.
Disamping
itu, setelah melakukan home visit, sambil berjalan-jalan melihat keadaan alam
berarti saya tetap terhubung dengan alam sehingga di sela-sela kesibukan mengajar
dari rumah kerumah. Kegiatan ini juga dapay membantu diri saya mengatasi rasa
cemas dan gelisah. Apalagi hal ini saya lakukan dengan naik sepeda keliling ke
rumah-rumah siswa atau keluar masuk desa. Selain bisa menenangkan pikiran,
kegiatan ini juga menyehatkan. selain terhubung dengan alam, saya juga dapat berinteraksi
dan menjaga hubungan sosial.
#semuabisamenulis
#gurumotivatorliterasi
#forumindonesiamenulis
#gurumotivator
#majukanliterasiindinesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar